Sinopsis Kisah
Pak Taib dan bu Muthi’ah (bukan nama sebenarnya) termasuk pasangan suami-isteri yang beruntung, meskipun pada awalnya pernah malang melintang di persimpangan jalan maksiat. Sesuai dengan namanya, Taib --yang artinya orang yang bertaubat-- telah menyandang gelar yang agung, yaitu orang yang kembali kepada Allah. Gelar ini memang bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, melainkan suatu rahasia antara dia dengan Sang Khaliq.
Demikian pula halnya bu Muthi’ah. Nama tersebut berarti wanita yang patuh dan taat. Pada awalnya, kepatuhan dia bukan kepada Allah, melainkan kepada keinginan hawa nafsu yang dikelabui oleh setan, atau kepada sang suami yang hidupnya dikuasai nafsu ammarah yang melihat dunia hanya untuk pemuas ambisi dan keinginan. Namun sekarang Alhamdulillah, nama yang melekat pada dirinya sudah serasi dan seiring dengan perbuatan dan prilakunya.
Demikian pula halnya bu Muthi’ah. Nama tersebut berarti wanita yang patuh dan taat. Pada awalnya, kepatuhan dia bukan kepada Allah, melainkan kepada keinginan hawa nafsu yang dikelabui oleh setan, atau kepada sang suami yang hidupnya dikuasai nafsu ammarah yang melihat dunia hanya untuk pemuas ambisi dan keinginan. Namun sekarang Alhamdulillah, nama yang melekat pada dirinya sudah serasi dan seiring dengan perbuatan dan prilakunya.
Masa Kelam
Semenjak bertemu bersaut qalbu, kemudian setuju untuk bersatu dalam mengarungi samudra kehidupan bersama, mereka berdua bersepakat untuk bekerjasama membina rumah tangga nan bahagia. Namun kesepakatan yang baik dan kesemangatan yang terpuji tersebut tidak dibarengi kepahaman yang memadai tentang rahasia hidup dunia ini, yaitu untuk menggapai ridha Ilahi. Akibatnya, ketika cita-cita kebahagiaan belum juga tercapai dan keinginan-keinginan selalu lambat tergapai, mereka akhirnya pergi ke dukun untuk meramal nasib. Seakan-akan ramalan dukun akan mengubah nasib. Segala persyaratan dari dukun dilakukan dan segala yang diisyaratkannya menjadi tumpuan harapan. (na’udzu billah)
Setelah sekian lama berinteraksi dengan dukun, sementara nasib tidak berubah, mereka akhirnya meninggalkan sang dukun dan berjibaku mengumpulkan modal -- meskipun dengan cara mengutang-- untuk pergi ke Saudi Arabia, negeri yang menjanjikan kesenangan dilihat dari orang-orang yang sudah berhasil bekerja di sana. Di negeri rantau inilah, pak Taib dan bu Muthi’ah mulai mendulang hasil. Real dapat terkumpul dan rencana membangun mahligai tempat kembali dapat terukur setelah masalah utang-piutang bisa “disaur”. Akan tetapi kelemahan aqidah dan keawaman tentang syari’ah membuat mereka tidak sabar untuk meniti langkah dan menelusri jalan yang pasti. Kehidupan yang baik dan penghasilan yang lumayan masih dianggap tidak memuaskan. Sehingga akhirnya sering mencari-cari jalan pintas untuk menambah rejeki meski tidak pasti, seperti memasang “judi Thailand”, misalnya. Bahkan tidak jarang, dengan kedok membantu, kedua sejoli TKI tersebut nekad menampung para pembantu kaburan yang kemudian dijadikan komoditas tertentu.
Cahaya Hidayah DatangSetelah sekian lama berinteraksi dengan dukun, sementara nasib tidak berubah, mereka akhirnya meninggalkan sang dukun dan berjibaku mengumpulkan modal -- meskipun dengan cara mengutang-- untuk pergi ke Saudi Arabia, negeri yang menjanjikan kesenangan dilihat dari orang-orang yang sudah berhasil bekerja di sana. Di negeri rantau inilah, pak Taib dan bu Muthi’ah mulai mendulang hasil. Real dapat terkumpul dan rencana membangun mahligai tempat kembali dapat terukur setelah masalah utang-piutang bisa “disaur”. Akan tetapi kelemahan aqidah dan keawaman tentang syari’ah membuat mereka tidak sabar untuk meniti langkah dan menelusri jalan yang pasti. Kehidupan yang baik dan penghasilan yang lumayan masih dianggap tidak memuaskan. Sehingga akhirnya sering mencari-cari jalan pintas untuk menambah rejeki meski tidak pasti, seperti memasang “judi Thailand”, misalnya. Bahkan tidak jarang, dengan kedok membantu, kedua sejoli TKI tersebut nekad menampung para pembantu kaburan yang kemudian dijadikan komoditas tertentu.
Ketika bulan suci Ramadhan tiba, mereka berdua pun terpanggil oleh suasana bulan yang agung dan mulia tersebut. Sebagaimana layaknya orang beriman, mereka menginginkan mendapatkan nilai-nilai pahala yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wata’ala di bulan yang penuh berkah ini. Dengan penuh semangat dan antusias, mereka aktif menjalani tugas-tugas agama; mulai dari puasa yang lebih serius, shalat lima waktu dengan berjama’ah, dan melakukan qiyamullail dengan khusyu’. Hari demi hari dari bulan suci ini mereka jalani dengan penuh syahdu dan riang hati. Suara bacaan al Qur’an menghiasi ruangan kecil namun mungil sebagaimana layaknya orang sedang dirantau.
Suasana semacam itulah yang segala perbuatan dosa yang telah lalu dibarengi usaha membesihkan diri dengan lebih aktif mempelajari Islam yang mulia dan mengamalkannya.
Suasana semacam itulah yang segala perbuatan dosa yang telah lalu dibarengi usaha membesihkan diri dengan lebih aktif mempelajari Islam yang mulia dan mengamalkannya.
Fenomenal
Kasus seperti ini pasti bukan terjadi pada satu-dua orang. Akan tetapi, sangat mungkin terjadi pada puluhan, ratusan bahkan ribuan orang. Keberadaan TKI di Saudi ini sangat beragam dengan latar belakang ber macam-macam dan pengaruh lingkungan berbeda-beda. Kasus di atas merupakan contoh keberagaman warga Indonesia yang ada di negeri rantau, dimana ada lingkungan yang mengajak untuk tidak baik dan ada lingkungan pengajian yang selalu mengajak kepada kebaikan. Bahkan ada juga lingkungan cuek-cuek saja. Yang penting tujuan utama dari keberadaannya di sini adalah cari fulus, masabodo dengan lingkungan apapun juga.
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, saudara-saudara kita, kerabat, handai taulan dan kaum muslimin secara umum. Aamien.
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, saudara-saudara kita, kerabat, handai taulan dan kaum muslimin secara umum. Aamien.
*) Murabbi Tim Redaksi TSAQOFAH






0 Response to "Nilai Keberkahan Ramadhan"