Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune by mail
POST-DESCRIPTION-HERE
POST-DESCRIPTION-HERE
POST-DESCRIPTION-HERE
POST-DESCRIPTION-HERE

POST-TITLE-HERE

POST-DESCRIPTION-HERE
IMAGE-TITLE-HERE

POST-TITLE-HERE

POST-DESCRIPTION-HERE
IMAGE-TITLE-HERE

POST-TITLE-HERE

POST-DESCRIPTION-HERE
IMAGE-TITLE-HERE

POST-TITLE-HERE

POST-DESCRIPTION-HERE
IMAGE-TITLE-HERE

POST-TITLE-HERE

POST-DESCRIPTION-HERE
IMAGE-TITLE-HERE

featured-content2

featured-content2

featured-content2

featured-content2

TKI Sambut Bulan Suci Ramadhan

01:40 1 Response
Oleh ; A.Sofyan Ilyas, S.Ag

Bulan suci kini telah datang. Berbagai aktivitas unggulan sebelum menjelang bulan suci ini telah dipersiapkan sehingga pada waktunya dapat melaksanakannya dengan seksama dan sungguh-sungguh.
Sebagai seorang muslim yang senantiasa mendambakan bulan Ramadhan tiba, hati kita selalu terpaut dengan kedatangan bulan penyelamat itu.
Ramadhan sebagaimana kita maklum, adalah bulan mempunyai banyak arti seperti di antaranya: "pembakar".
Dimaknai demikian karena bulan Ramadhan dapat menghanguskan dosa-dosa yang telah diperbuat. Rasulullah SAW bersabda :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه)
Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahalanya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Bagi kita, sebagai masyarakat perantau, bulan Ramadhan terkadang sulit memberi arti kepada kita, sehingga kita tidak dapat mengisinya dan kadang pula tidak mengerti apa rahasia dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Hal itu mungkin disebabkan karena kita belum mendapatkan informasi dari orang-orang yang mengerti dan berkompeten tentang Ramadhan seperti yang kita harapkan, atau kita sendiri tidak berusaha untuk mencari tahu.
Sesungguhnya, begitu banyak informasi mengenai keunggulan bulan suci ini. Terlebih lagi kita sekarang sedang merantau di pusat negeri turunnya Bulan suci Ramadhan. Betapa sangat disayangkan jika tidak pandai-pandai mencari tahu akan faedah bulan suci ini.
Bak kelaparan di lumbung padi. Itulah gambaran kita yang kurang pandai memetik manfaat dari perantauan di negeri gurun pasir ini.
Banyak saudara kita menyikapi berbagai kelebihan bulan Ramadhan dengan biasa saja. Ada sebagian orang berkata: Ramadhan dan bulan lainnya sami mawon ra ono bedane, karena majikan kita tidak pernah memberikan kelebihan apapun kepada kita untuk mengisinya. Bahkan sebaliknya kita semakin payah dan "riweuh" melayani majikan kita sebulan penuh melebihi bulan-bulan lainnya
Pada bulan yang mulia ini, seharusnya kita meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama saudara kita, baik seperantauan, terlebih mereka yang berada di negeri tercinta. Kita harus senantiasa memperhatikan ka karena kita adalah bagian dari mereka.
Sebagai bahan renungan yang perlu menjadi perhatian kepedulian kita, bahwa belum lama ini per tanggal 01 Oktober 2005, pemerintah kita telah menyesuaikan kembali harga BBM alias menaikan harga yang sampai saat ini telah mencapai Rp 3.500,- per liter, juga meledaknya bom di Bali yang cukup banyak menelan korban.
Jika kita merenungkan segala gejala yang terjadi di negeri kita, tentu setiap kita akan merasa pesimis. Berbagai bencana yang melanda negeri seakan tidak pernah henti. Dari waktu ke waktu bukan berkurang malah semakin bertambah, itu akibat ulah tangan anak bangsa sendiri. Di bulan suci ini hendaknya merenungkan segala bencana itu dengan mengambil hikmah.
Kita yang berada di negeri perantauan janganlah memperparah penderitaan saudara kita yang berada di sana dengan acuh tak acuh. Mereka sedang berada dalam kesulitan yang semakin hari kian memuncak, memperjuangkan hidup mereka yang
kian berat. Kita sedang ditimpa penderitaan global, jangan bersikap masa bodoh dan saling menyalahkan dengan membiarkan mereka
Mereka bukan pemalas, mereka bukan tidak ingin bekerja, tapi pekerjaan tidak ada. Kalaupun ada, harus bersaing dengan yang lainnya Seandainya mereka punya kesempatan untuk pergi merantau, pastilah merekapun akan melakukannya. Tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Sungguh sangat ironis memang jika kita bayangkan, negara dengan kekayaan alam yang melimpah, akan tetapi hidup dengan keadaan menderita.
Di bulan suci ini jadikanlah sebagai bulan renungan. Disamping kita berfikir untuk diri kita sendiri, kita juga sepatutnya berfikir pula untuk saudara kita. Apa yang dapat kita perbuat untuk mereka? Apa yang kita sumbangkan bagi saudara kita? Kita dapat memberi, walau tidak dengan rupiah atau riyal, apakah mungkin?
Tentu bukan mustahil. Kita memberikan kesadaran kepada saudara kita sesama perantau untuk meningkatkan kepedulian dalam mengentaskan penderitaan mereka adalah merupakan amal kebajikan yang pasti tercatat di sisi Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda: "Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan sesama muslim, maka ia bukan termasuk golongan kami" (al-Hadits).
Jenis kepedulian dapat berupa sumbangan tenaga, harta dan fikiran.
Sumbangan tenaga adalah bantuan langsung bersifat fisik seperti bahu membahu dalam menyalurkan bantuan dari pihak para dermawan baik pemerintah atau masyarakat seperti membangun rumah-rumah penduduk jalan-jalan, tempat-tempat ibadah, pasar dan tempat-tempat yang lainnya yang dibutuhkan.
Sumbangan materi adalah bahwa kita berusaha meringankan penderitaan saudara kita dengan harta benda baik secara langsung atau melalui perantara kepanitian yang besedia menyalurkannya, seperti yang sudah kita ketahui di antaranya Yayasan Ihsanul Umat, Majlis-majlis Ta'lim, dan pihak KBRI.
Adapun sumbangan fikiran yang bisa kita berikan adalah ikut andil membantu mencarikan jalan keluar penderitaan saudara-saudara kita melalui sarana atau media yang notabene berjuang untuk menyampaikan saran, nasihat, ajaran, dan informasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Sumbangan ini dapat lebih luas manfaatnya bagi masyarakat, baik ketika dilanda musibah maupun tidak tertimpa musibah. Karena sarana ini dapat bekerja secara simultan dan berkesinambungan tidak putus di tengah jalan. Khusus sumbangan jenis ini, sampai saat ini belum ada satu wadah pun yang bersedia berjuang untuk menampung aspirasi masyarakat kita khususnya di kota Riyadh, demi pemerintah dan rakyatnya. Padahal jika ditilik secara seksama di lapangan, keberadaan organisasi sejenis ini merupakan tolok ukur kepedulian masyarakat kita terhadap bangsa dan negara.
Bulan yang suci ini kita jadikan momentum untuk menggugah kembali rasa kepedulian kita yang kian hari mungkin pudar bahkan terpinggirkan. Kita melulu disibukan oleh aktivitas rutin sebagai TKI, lalu melupakan tanggung jawab kita sebagai masyarakat yang sedang dilanda musibah dengan berbagai krisis. Seyogyanya kita harus berfikir global. Paling tidak, rasa nasionalisme sebagai sesama bangsa Indonesia, terlebih lagi sesama saudara muslim, hendaklah kita tumbuhkan kembali, dengan cara memperhatikan nasib saudara-saudara kita di sana.
Kalau kita mulai dengan diri kita, orang lain akan merasa simpatik. Kita bahu membahu berjuang sesuai wadah perjuangannya. Dan atas dasar keridhoan Allah jualah kita semua memulai langkah. Karena jika bukan dari perhatian kita, lalu siapa lagi? Jika bukan kita, sampai kapan negara kita akan mengibarkan benderanya dengan setengah tiang?

*) Alumnus Sastra Arab IAIN Jakarta

Read more...

Nilai Keberkahan Ramadhan

00:05 0 Responses
Oleh: Abu Naufal


Sinopsis Kisah
Pak Taib dan bu Muthi’ah (bukan nama sebenarnya) termasuk pasangan suami-isteri yang beruntung, meskipun pada awalnya pernah malang melintang di persimpangan jalan maksiat. Sesuai dengan namanya, Taib --yang artinya orang yang bertaubat-- telah menyandang gelar yang agung, yaitu orang yang kembali kepada Allah. Gelar ini memang bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, melainkan suatu rahasia antara dia dengan Sang Khaliq.
Demikian pula halnya bu Muthi’ah. Nama tersebut berarti wanita yang patuh dan taat. Pada awalnya, kepatuhan dia bukan kepada Allah, melainkan kepada keinginan hawa nafsu yang dikelabui oleh setan, atau kepada sang suami yang hidupnya dikuasai nafsu ammarah yang melihat dunia hanya untuk pemuas ambisi dan keinginan. Namun sekarang Alhamdulillah, nama yang melekat pada dirinya sudah serasi dan seiring dengan perbuatan dan prilakunya.

Masa Kelam
Semenjak bertemu bersaut qalbu, kemudian setuju untuk bersatu dalam mengarungi samudra kehidupan bersama, mereka berdua bersepakat untuk bekerjasama membina rumah tangga nan bahagia. Namun kesepakatan yang baik dan kesemangatan yang terpuji tersebut tidak dibarengi kepahaman yang memadai tentang rahasia hidup dunia ini, yaitu untuk menggapai ridha Ilahi. Akibatnya, ketika cita-cita kebahagiaan belum juga tercapai dan keinginan-keinginan selalu lambat tergapai, mereka akhirnya pergi ke dukun untuk meramal nasib. Seakan-akan ramalan dukun akan mengubah nasib. Segala persyaratan dari dukun dilakukan dan segala yang diisyaratkannya menjadi tumpuan harapan. (na’udzu billah)
Setelah sekian lama berinteraksi dengan dukun, sementara nasib tidak berubah, mereka akhirnya meninggalkan sang dukun dan berjibaku mengumpulkan modal -- meskipun dengan cara mengutang-- untuk pergi ke Saudi Arabia, negeri yang menjanjikan kesenangan dilihat dari orang-orang yang sudah berhasil bekerja di sana. Di negeri rantau inilah, pak Taib dan bu Muthi’ah mulai mendulang hasil. Real dapat terkumpul dan rencana membangun mahligai tempat kembali dapat terukur setelah masalah utang-piutang bisa “disaur”. Akan tetapi kelemahan aqidah dan keawaman tentang syari’ah membuat mereka tidak sabar untuk meniti langkah dan menelusri jalan yang pasti. Kehidupan yang baik dan penghasilan yang lumayan masih dianggap tidak memuaskan. Sehingga akhirnya sering mencari-cari jalan pintas untuk menambah rejeki meski tidak pasti, seperti memasang “judi Thailand”, misalnya. Bahkan tidak jarang, dengan kedok membantu, kedua sejoli TKI tersebut nekad menampung para pembantu kaburan yang kemudian dijadikan komoditas tertentu.
Cahaya Hidayah Datang
Ketika bulan suci Ramadhan tiba, mereka berdua pun terpanggil oleh suasana bulan yang agung dan mulia tersebut. Sebagaimana layaknya orang beriman, mereka menginginkan mendapatkan nilai-nilai pahala yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wata’ala di bulan yang penuh berkah ini. Dengan penuh semangat dan antusias, mereka aktif menjalani tugas-tugas agama; mulai dari puasa yang lebih serius, shalat lima waktu dengan berjama’ah, dan melakukan qiyamullail dengan khusyu’. Hari demi hari dari bulan suci ini mereka jalani dengan penuh syahdu dan riang hati. Suara bacaan al Qur’an menghiasi ruangan kecil namun mungil sebagaimana layaknya orang sedang dirantau.
Suasana semacam itulah yang segala perbuatan dosa yang telah lalu dibarengi usaha membesihkan diri dengan lebih aktif mempelajari Islam yang mulia dan mengamalkannya.

Fenomenal
Kasus seperti ini pasti bukan terjadi pada satu-dua orang. Akan tetapi, sangat mungkin terjadi pada puluhan, ratusan bahkan ribuan orang. Keberadaan TKI di Saudi ini sangat beragam dengan latar belakang ber macam-macam dan pengaruh lingkungan berbeda-beda. Kasus di atas merupakan contoh keberagaman warga Indonesia yang ada di negeri rantau, dimana ada lingkungan yang mengajak untuk tidak baik dan ada lingkungan pengajian yang selalu mengajak kepada kebaikan. Bahkan ada juga lingkungan cuek-cuek saja. Yang penting tujuan utama dari keberadaannya di sini adalah cari fulus, masabodo dengan lingkungan apapun juga.
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, saudara-saudara kita, kerabat, handai taulan dan kaum muslimin secara umum. Aamien.

*) Murabbi Tim Redaksi TSAQOFAH

Read more...

Kisah Nyata

04:35
Kisah berikut ini tak saya dapatkan langsung. Mungkin saya orang yang kesekian Mengetahuinya. Bahkan barangkali penulisnya pun tak langsung mengalaminya. Sebuah kisah di musim panas yang menyengat. Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya... Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak.Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus. Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat. Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk di sampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang. "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya tempat di neraka Tuhan Anda!! Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.

Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan di penghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria.

Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada di dekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.

Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Tanda-tandanya akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengannya
semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar... mumpung kesempatan itu masih ada.

Read more...